, ,

Suasana Haru dan Takjub Penuhi Pelataran Masjid, Santri Wajo Terinspirasi Perjalanan Hidup Bupati Sidrap

by -3521 Views

Dari Pesantren ke Pemerintahan: Kisah Santri Wajo yang Terinspirasi oleh Perjalanan Hidup Bupati Sidrap

NEWS BARRU– Suasana pagi di pelataran Masjid Agung Pangkajene pada Sabtu, 14 September 2024, dipenuhi dengan semangat dan gelora keimanan. Ratusan santri dari berbagai penjuru berkumpul untuk menyemarakkan pembukaan Kemah Tahfidz dan Bahasa VIII. Sorak sorai dan lantunan ayat suci Al-Qur’an mengiringi acara yang penuh khidmat ini. Namun, di tengah kemeriahan itu, sebuah momen inspiratif tercipta—sebuah momen yang mungkin mengubah sudut pandang dan masa depan seorang santri asal Wajo.

Muh Aqsha Umar, santri dari Pondok Pesantren Al-Mujahidin Muhammadiyah Jauh Pandang, Wajo, adalah salah satu peserta yang hadir dengan penuh antusiasme. Seperti santri lainnya, ia datang dengan harapan untuk mengasah kemampuan tahfidz dan bahasa. Namun, ia pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah inspirasi nyata tentang masa depan yang gemilang.

Suasana Haru dan Takjub Penuhi Pelataran Masjid, Santri Wajo Terinspirasi Perjalanan Hidup Bupati Sidrap
Suasana Haru dan Takjub Penuhi Pelataran Masjid, Santri Wajo Terinspirasi Perjalanan Hidup Bupati Sidrap

Baca Juga: Di Tengah Duka, Empat Keluarga Korban Kerusuhan Makassar Terima Bantuan Rumah dari Negara

Inspirasi itu hadir dari sosok yang tampil membawakan sambutan: Bupati Sidrap, Drs. H. Syahruddin Alrif, M.M. Bukan sekadar sambutan protokoler, sang Bupati justru membagikan fragmen perjalanan hidupnya. Dan bagi Aqsha, setiap kata yang diucapkan bagai petir di siang bolong, menyentuh relung hati dan membangkitkan api semangat.

“Ternyata Bapak Bupati Sidrap Juga Dulunya Santri.”

Ucapan polos penuh ketakjuban itu meluncur dari bibir Muh Aqsha Umar usai acara. “Saya benar-benar takjub,” akunya dengan mata berbinar. “Beliau bercerita tentang masa lalunya yang juga dihabiskan di dunia pesantren, sebagai seorang santri. Itu sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kami sehari-hari.”

Dalam benak Aqsha dan mungkin banyak santri lainnya, figur pemimpin daerah sering kali terlihat jauh, berada di menara gading yang berbeda. Mereka adalah politisi, birokrat, atau orang-orang terpelajar dari kampus umum. Namun, Syahruddin Alrif mematahkan stereotip itu. Ia membuktikan bahwa pondasi keilmuan agama yang kokoh dari pesantren bukanlah halangan, melainkan senjata ampuh untuk meraih kesuksesan di ranah publik yang lebih luas.

Kader Muhammadiyah di Kursi Kepemimpinan

Yang membuat kekaguman Aqsha semakin menjadi-jadi adalah ketika mengetahui bahwa Bupati Sidrap tersebut juga adalah seorang kader Muhammadiyah. Ini bukan sekadar label, tetapi sebuah identitas perjuangan yang juga ia miliki. “Hebat,” ujarnya singkat namun penuh makna. “Saya termotivasi mendengar sambutan Bapak Bupati. Beliau adalah bukti hidup bahwa nilai-nilai yang ditanamkan di Muhammadiyah—seperti kemandirian, keilmuan, dan pengabdian pada masyarakat—bisa membawa seseorang ke puncak kepemimpinan.”

Inspirasi itu tidak berhenti pada sang Bupati. Aqsha dengan cermat menyimak bahwa pendamping sang pemimpin, Ibu Wakil Bupati Nur Kanaah, juga adalah seorang kader Aisyiyah (organisasi otonom Muhammadiyah untuk perempuan) yang kini aktif sebagai pengurus di Kabupaten Sidrap.

“Luar biasa!” serunya bersemangat. “Ternyata bukan hanya Bupati kita saja yang berproses sebagai santri dan kader, ternyata Ibu Wakil Bupati juga adalah kader. Ini menunjukkan bahwa pergerakan kami, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi membangun negeri. Kami merasa termotivasi bahwa santri Muhammadiyah bisa bersaing di level mana pun.”

Pemutus Rantai Keraguan: Jika Mereka Bisa, Kami Pun Bisa!

Perjumpaan singkat itu memiliki dampak psikologis yang mendalam. Bagi generasi muda seperti Aqsha, melihat role model (teladan) dari latar belakang yang sama adalah sebuah penegasan yang sangat powerful. Itu memutus rantai keraguan dan menggantinya dengan keyakinan: “Jika mereka bisa, maka saya pun bisa!”

Figur Bupati Syahruddin Alrif dan Wakil Bupati Nur Kanaah menjadi living evidence bahwa perjalanan dari mushalla pesantren ke gedung pemerintahan bukanlah sebuah mimpi di siang bolong. Ilmu agama, hafalan Al-Qur’an, dan wawasan keislaman yang multidisiplin justru membentuk karakter pemimpin yang integritas, rendah hati, dan memiliki landasan moral yang kuat dalam mengambil setiap kebijakan.

Kemah Tahfidz dan Bahasa VIII pun mendapatkan makna yang lebih dalam. Acara ini tidak lagi sekadar tentang melombakan hafalan atau kemampuan berbahasa asing. Ia berubah menjadi sebuah wahana untuk menyalakan obor generasi penerus, menunjukkan kepada mereka bahwa ilmu yang mereka pelajari dengan susah payah hari ini adalah bekal berharga untuk memimpin masyarakat esok hari.

Sebuah Pelajaran bagi Dunia Pendidikan

Kisah inspiratif Muh Aqsha Umar ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia pendidikan, khususnya pesantren dan organisasi otonom seperti Muhammadiyah. Pentingnya menghadirkan teladan-teladan konkret dari alumni yang telah sukses di berbagai bidang. Kehadiran mereka mampu memberikan energi positif yang tidak tergantikan oleh sekian banyak nasihat dan motivasi verbal.

Bupati Syahruddin Alrif, tanpa disadari, telah menjalankan salah satu fungsi terpenting seorang pemimpin: menginspirasi. Keberhasilannya bukan hanya diukur dari pembangunan fisik di Sidrap, tetapi juga dari mampu tidaknya ia menumbuhkan mimpi dan ambisi positif pada generasi muda.

Muh Aqsha Umar mungkin akan kembali ke Pesantren Al-Mujahidin di Wajo dengan rutinitas yang sama: menghafal Al-Qur’an, belajar bahasa Arab dan Inggris, dan menimba ilmu agama. Namun, semangatnya kini telah berbeda. Ia tidak lagi hanya melihat dinding-dinding pesantren, tetapi telah membayangkan horizon yang lebih luas—sebuah masa depan di mana ia, sebagai santri dan kader Muhammadiyah, bisa berdiri membawa misi perubahan dan pengabdian untuk masyarakat, mengikuti jejak inspiratif sang Bupati dari Sidrap.

Dan pada akhirnya, satu pemuda yang terinspirasi hari ini, bisa menjadi pemimpin yang menginspirasi ribuan pemuda di masa depan. Itulah warisan yang paling abadi.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.